Tuesday, 20 October 2015

RESUME BBC WILD WEATHER 3 : COLD

Dalam film  ini, Donald MacIntyre melakukan perjalanan dan membahas tentang cuaca dingin, yang dapat menjadi pembunuh bagi makhluk hidup di muka bumi. Dimulai dari suatu daerah di bagian atas bumi (arktik), sumber cuaca bumi belahan utara dan banyak elemen ekstrim disana. Donald menjelajah daerah tersebut untuk mengetahui kapan musim dingin dimulai. 15 juta km persegi luasnya, lebih luas dari india dan china. Donald mencoba masuk ke dalam air yang berada di bawah es, dan ternyata es melindungi air hangat yang ada di bawahnya. Saat Arktik jauh dari matahari, BBU mengalami musim dingin. Ketika Arktik dekat dengan matahari, maka BBU mengalami musim panas. Matahari akan berada 24 jam di atas langit Arktik sehingga Arktik disebut juga Daratan dari Matahari Tengah Malam. Tetapi, panasnya Matahari di langit Arktik masih belum cukup untuk melelehkan es di sana meskipun di puncak panasnya. Salah satu penyebabnya adalah karena terdapat Laut Arktik di bawah Arktik itu sendiri.  Lapisan es di atas Laut Arktik udara panas turun ke bawah, yang mendorong permukaan udara dingin ke arah selatan melalui angin kutub. Lapisan es ini juga yang akan menjaga udara di atasnya dengan suhu yang sama.
Selain pada cuaca, unsur dingin jugs berdampak pada tubuh kita. Donald mencoba masuk ke suatu ruangan untuk mengecek seberapa tahankah dia berada di wilayah yang dingin, mencoba beradaptasi dengan suhu dingin tersebut. Donald berada dalam suhu -18 derajat celcius tanpa pelindung apapun, dan ia nampak mulai hipotermia. Otaknya membeku, badannya sudah sangat menggigil. Dan akhirya dia berkata sudah tidak sanggup lagi berada di ruangan itu. Setelah beradaptasi dengan suhu -18o C, Donald kembali ke alam terbuka Greenland untuk mengikuti kegiatan yang biasa dilakukan penduduk setempat. Greenland, merupakan tempat hidup paling ekstrim di muka bumi, pada musim dingin suhu disini bisa mencapai -40o C, dan anak anak hanya bisa bermain diluar rumah maksimal 10 menit saja sebelum kulitnya menjadi beku. Penghuni Greenland dapat tetap hidup karena adaptasi tubuh dan lingkungan sudah terjadi sejak mereka kecil.  Jika mengetahui temperatur dan cuaca di wilayah Greenland, dapat dilakukan prediksi untuk cuaca yang ada dii wilayah Eropa seperti di Negara Jerman. Sangat dinginnya temperatur di Greenland, membuat mata Donald menjadi beku. Ketika malam hari, Donald dibuatkan tempat untuk beristirahat dengan membuat semacam goa di bawah tebing es, karena suhu malam hari di wilayah Greenland akan turun menjadi lebih dingin lagi. Kedua teman Donald yang merupakan penduduk asli Greenland tidur di luar dengan mengggunakan tenda. Di dalam Goa suhu akan tetap terjaga dan tidak mengalami penurunan.
Kejadian ekstrem pernah terjadi di Amerika Serikat, badai dingin yang sangat parah pada tahun 1993, orang hanya bisa menutup mukanya agar tidak ikut membeku. Dua orang warga yang bernama Bill dan Jave sehabis pulang kerja terjebak di dalam badai itu, dan itu mengubah hidup mereka selanjutnya. Jalanan penuh dengan salju dan mereka berdua di dalam mobil dan tak bisa kemana mana. Kecepatan angin mencapai 140 miles/jam dengan temperatur dibawah nol dan salju sangat banyak. Dan keadaan tersebut makin buruk saja, Bill dan Jave terjabak dalam keadaan ini selama 8 jam hingga ada mobil ambulan yang menolong. Beruntung mereka berdua masih dapat hidup. Bill kehilangan ankle kakinya, karena sel-sel ankle kakinya yang sampai mati dan tidak sanggup bertahan dalam temperatur yang sangat dingin.Lalu ankle kaki Bill di amputasi. Sedangkan Jave mengalami pengeroposan daging (dagingnya mengkerut) di bagian pinggang akibat tidak sanggup bertahan pada suhu yang sangat dingin. Kondisi dingin yang berlebihan dapat mematikan sel-sel tubuh manusia, sel sel menjadi keriput, dan rongga sel terisi oleh kristal es yang tajam. Dalam kondisi yang parah, bagian tubuh manusia dapat menghitam, dan satu satunya cara untuk menghilangkannya hanya dengan proses amputasi. Es akan terbentuk di dalam cairan dan sekitar sel. Pembuluh darah membeku keras dan tak ada oksigen yang dibawa. Tanpa oksigen sel tubuh tersebut mudah terinfeksi. Ganggren masuk lalu daerah tersebut menjadi hitam dan membusuk.
Semua angin kutub mengarah ke selatan menuju dan bertemu udara panas di khatulistiwa. Selanjutnya Donald pergi ke gunung Washington untuk mendatangi stasiun meteorologi disana. Disana cuaca dapat berubah begitu cepat, kecepatan angin tercepat yang pernah terekam sebesar 231 miles/jam. Puncak ini terletak di jalan badai yang mempengaruhi cuaca di timur laut, membuat tempat ini sesuai untuk melihat kondisi bagaimana jika angin dan dingin digabung . Observasi puncak washington merupakan tempat terbaik mempelajari musim dingin ekstrim. Bila angin dan kabut dingin mengenai benda keras, terjadi hal yang sangat mengherankan yaitu terbentuk bunga es. Jika air berada pada suhu dibawah titik bekunya, ia akan tetap dalam wujud cair, namun jika terbentur benda keras cairan itu akan menjadi es, dan lama kelamaan akan menebal.
Satu badai salju terburuk yang pernah terjadi yaitu disebelah timur Kanada. Badai es datang dalam gelombang, selama dua hari hujan beku terus turun. Pohon pohon banyak yang tumbang akibat menumpuknya es di rantingnya, tiang listrik juga begitu, akibatnya dalam area 500.000 mil persegi di Montreal mengalami pemadaman listrik. Pada akhirnya 50 ribu orang mengungsi ke tempat perlindungan. Kerugian yang dialami akibat kejadian badai es ini lebih dari 800 juta dolar. Ketika dingin terus menuju ke selatan, cuaca dingin tidak begitu ekstrim. Tapi bisa lebih berbahaya. Selanjutnya Donald melanjutkan perjalanan ke London, yang merupakan ibukota negara terdingin di Eropa. Meskipun tak ada salju, bukan berarti dingin tidak mematikan. Temperatur dingin menyebabkan darah mengental, dan tekanan darah bertambah, berakhir pada kematian. Jauh di sebelah selatan London, dingin tidak begitu ekstrim. Kecuali di puncak gunung, selalu ada salju termasuk di Khatulistiwa. Kebanyakan air turun berupa hujan, namun disini turun sebagai salju. Ciri musim dingin paling utama yaitu adanya salju. Serpihan salju berasal dari partikel kecil di awan, titik titik air menempel di permukaannya dan membeku membentuk kristal es, kristal es makin banyak dan membentuk kristal salju yang akhirnya jatuh ke tanah. Setiap jenis serpihan salju membentuk salju yang berbeda.

Ketika udara dingin angin kutub dari utara bertemu dengan udara lembab dan panas dari arah khatulistiwa akan dihasilkan badai salju. Udara lembab dan panas akan bergerak ke atas udara kutub lalu menjebak udara kutub di bawahnya menghasilkan badai salju. Tetapi terkadang di tengah-tengah lapisan, hujan dari udara panas tak punya waktu membeku dalam perjalanannya ke bawah. Sehingga jatuh sebagai hujan super dingin. Air hujan super dingin ketika jatuh akan langsung membeku ketika mengenai suatu benda. Salah satu ciri khas dari musim dingin adalah salju. Salju terbentuk dari serpihan salju yang berasal dari partikel kecil di awan. Titik-titik air lalu menempel di permukaannya yang kemudian membeku membentuk kristal es. Semakin banyak titik air yang menempel, kristal es akan menjadi serpihan salju yang akhirnya jatuh ke tanah sebagai salju. Ketika salju turun ke tanah, salju akan saling mengikat menjadi keras. Hujan salju dapat menghasilkan lapisan salju yang sangat erat. Kadang-kadang terdapat satu lapisan yang masih rapuh dan dapat menyebabkan longsor salju. Salju juga bisa menghasilkan gletser. Bobot dari salju baru memadatkan es di bawahnya dan menghasilkan gletser.

Friday, 25 September 2015

PERUBAHAN IKLIM, ADAPTASI, DAN MITIGASI

Pola cuaca adalah bagian penting dalam kehidupan kita. Pola ini memengaruhi tanaman pangan kita, air yang kita gunakan, tempat tinggal, aktivitas dan kesehatan kita. Oleh karena itu, perubahan iklim benar-benar berdampak serius bagi kehidupan kita. Tidak seorang pun yang tahu dengan pasti kenyataan yang akan terjadi di masa depan. Tetapi para ahli dapat menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberi gambaran tentang bagaimana iklim akan berubah jika kita terus melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim, seperti menggunduli hutan, menghamburkan energi, dan menerapkan sistem pertanian yang buruk.
Perubahan Iklim
Perubahan iklim diartikan sebagai perubahan dalam jangka panjang dalam hal cuaca dalam peridode waktu tertentu, umumnya antara puluhan hingga ratusan tahun. Perubahan iklim merupakan sebuah bencana besar dan malapetaka bagi umat manusia, hal ini dikarenakan dampak perubahan iklim bagi kehidupan manusia sangat merugikan sekali. Dan inilah pembahasan singkat mengenai berbagai macam dampak perubahan iklim bagi kehidupan dimuka bumi.

Bagaimana iklim akan berubah di Indonesia? Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), selama abad 20, Indonesia mengalami peningkatan suhu rata-rata udara di permukaan tanah 0,5 derajat celcius. Jika dibandingkan periode tahun 1961 hingga 1990, rata-rata suhu di Indonesia diproyeksikan meningkat 0,8 sampai 1,0 derajat Celcius antara tahun 2020 hingga 2050.
-       Musim kemarau yang lebih panas dan berkepanjangan, termasuk gelombang panas.
-       Hujan yang berkurang di musim kemarau, dengan kekeringan yang parah.
-       Curah hujan yang berlebih di musim penghujan.
-       Naiknya permukaan air laut.
Dampak perubahan iklim pada kehidupan masyarakat diantaranya;
1.    Pertanian
Hasil panen menurun, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Sebagian tanaman mungkin akan hancur, sehingga semakin sulit menghasilkan tanaman pangan yang baik. Tingkat kesuburan sebagian tanah berkurang sehingga tidak dapat digunakan sebagai lahan pertanian. Petani akan semakin sulit mendapatkan makanan. Sebagian warga terpaksa harus pindah ke tempat lain. Petani-petani mungkin harus berebut untuk menanam di lahan yang subur.
2.    Hutan
Jumlah makanan dan produk hutan akan menurun. Manusia yang menjual hasil hutan akan semakin merugi. Fungsi hutan sebagai pengatur sistem hidrologi dan penyaring air akan menjadi lemah. Kuantitas air tanah akan berkurang dan kualitas air pun akan menurun. Dengan berkurangnya keanekaragaman hayati, sistem alami tidak akan berjalan secara efektif. Tanaman akan semakin menderita karena perubahan iklim meningkatkan jumlah hama dan penyakit.
3.    Perikanan
Budidaya perikanan penting sebagai mata pencaharian dan sumber makanan bagi masyarakat Indonesia. Jika persediaan air berkurang dan suhu air laut memanas, maka jumlah ikan akan menurun. Para nelayan pun akan sulit memperoleh makanan dan penghasilan.
4.    Udara Semakin Tidak Sehat
Dampak perubahan iklim lainnya adalah tingkat pencemaran udara yang tinggi sehingga membuat kualitas udara semakin tidak sehat. Perubahan iklim, global warming, pertumbuhan penduduk semakin meningkatkan permintaan akan energi. Sedangkan kita tahu bahwa energi dihasilkan dari bahan bakar fosil yang notabene mengelurkan emisi gas berupa kabon dioksida.
5.    Harga pangan meningkat
Untuk beberapa dekade mendatang, para pakar memprediksi hasil tanaman pangan mulai dari jagung hingga gandum, beras hingga kapas, akan menurun hingga 30 persen. Hasil yang menurun ini berujung pada peningkatan harga pangan. Sebab, akan ada proses, penyimpanan, dan transportasi pangan yang membutuhkan air dan energi lebih.
6.    Siklus yang tidak sehat
Meningkatnya suhu ditambah dengan populasi global akan mencuatkan permintaan energi. Ini akhirnya berujung pada produksi emisi yang menyebabkan perubahan iklim dan, ironisnya, memicu lebih banyak lagi emisi. Sedangkan curah hujan, diproyeksikan akan menurun sebanyak 40 persen di beberapa lokasi.  
7.    Rusaknya infrastruktur
Perubahan iklim memicu lebih banyak cuaca ekstrem yang menghasilkan bencana. Seperti yang terjadi di DKI Jakarta pada Januari hingga Februari 2013. Hujan dalam intensitas tinggi menyebabkan banjir besar, Kamis (17/1). Ibu Kota Indonesia ini lumpuh ketika nyaris semua titik jalannya terendam banjir, termasuk pusat pemerintahan di Jakarta Pusat. Jalan dan bus transportasi umum yang merupakan infrastruktur penting bagi warga Jakarta tidak lagi berfungsi. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut, 15.423 jiwa harus mengungsi. Daerah yang terendam meliputi 720 RT, 309 RW, 73 Kelurahan, dan 31 Kecamatan.
8.    Berkurangnya sumber air
Membludaknya jumlah penduduk menyebabkan tingginya permintaan air. Ini menimbulkan penyedotan besar-besaran terhadap sumber air yang ada. Khusus untuk Jakarta, naiknya muka air laut dapat membuat batas antara air tanah dan air laut semakin jauh ke daratan. Sehingga mencemari lebih banyak sumber air minum.
9.    Meningkatnya penyakit pernapasan
Perubahan iklim juga menyebabkan polusi udara yang akhirnya menurunkan fungsi dari paru-paru. Di kota besar seperti New York City, Amerika Serikat, kasus asma akan meningkat sebanyak sepuluh persen.
10.  Bencana hidrologi
Bencana alam, hasil dari perubahan iklim, meningkatkan badai dan cuaca ekstrem. Hanya beberapa kota di dunia yang mempunyai sistem penanggulan yang cukup baik untuk bencana-bencana tersebut.

Adaptasi dan Mitigasi
Adaptasi merupakan proses penyesuaian apapun yang terjadi secara alamiah di dalam ekosistem atau dalam sistem manusia sebagai reaksi terhadap perubahan iklim, baik dengan meminimalkan tingkat perusakan maupun mengembangkan peluang-peluang yang menguntungkan sebagai reaksi terhadap iklim yang sedang berubah atau bencana yang akan terjadi yang terkait dengan perubahan-perubahan lingkungan.
Nenek moyang kita telah mengatasi dan menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim selama ribuan tahun (Tebtebba). Di seluruh dunia, masyarakat adat telah mengembangkan langkah-langkah adaptasi inovatif untuk menghadapi perubahan iklim berdasarkan pengetahuan tradisional mereka. Langkah-langkah ini meliputi menanam berbagai tanaman dan varietas tanaman, memindahkan ladang, mengubah strategi berburu dan teknik menangkap ikan dan lain-lain (AIPP).
Beberapa contoh adaptasi dari masyarakat adat di berbagai negara:
1.    Bangladesh, para penduduk desa saat ini menciptakan kebun sayur terapung untuk melindungi mata pencahariannya dari banjir.
2.    Vietnam, berbagai komunitas sedang membantu menanam pohon bakau yang rimbun di sepanjang pesisir untuk memecah ombak badai tropis.
3.    Di sebuah desa pesisir di Vanua Levu, Fiji, vanua (yang mengacu pada hubungan masyarakat dengan tanahnya melalui nenek moyang dan roh halus penjaganya) berfungsi sebagai sebuah prinsip pemandu bagi pengelolaan dan penggunaan berkelanjutan hutan hujan, hutan bakau, terumbu karang, dan kebun desa.
4.    Di bagian lainnya di Pasifik, masyarakat adat telah membangun dinding-laut yang menyediakan sebuah sistem drainase air dan tangki air dan melarang penebangan pohon.
5.    Desa terpencil Guarita di Honduras saat ini memanfaatkan metode pertanian tradisional Quezungal. Mereka menanami tanaman di bawah pohon-pohon yang akarnya mencengkeram tanah dan menahannya dari erosi. Mereka juga memangkas tanaman untuk menyediakan gizi bagi lapisan tanah dan untuk memelihara pasokan air tanah. Terakhir, mereka sedang membuat teras-teras untuk menghindari erosi tanah (Tebtebba).
Selain proses adaptasi, mitigasi juga perlu dilakukan dalam upaya mencegah bertambahnya dampak perubahan iklim. Mitigasi adalah proses pengurangan emisi gas rumah kaca. Karena penyebab utama dari perubahan iklim adalah penggunaan bahan bakar fosil, seperti batubara dan minyak bumi, maka negara-negara seperti Amerika, Inggris dan Jepang, dan negara-negara industri lainnya diharuskan mengurangi 80% emisi mereka pada tahun 2050.
Di tingkat internasional dan nasional, Negara-negara  mencoba membangun berbagai skema/mekanisme untuk pengurangan emisi gas ruma kaca. Salah satunya adalah REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Pengurangan Emisi Dari Deforestasi dan Degradasi Hutan”.
Deforestasi dan degradasi hutan merupakan salah satu penyebab meningkatnya emisi gas rumah kaca. Beberapa kalangan menganggap bahwa membayar negara lain untuk mengurangi deforestasi merupakan cara yang lebih mudah dan murah untuk mengurangi emisi global. Dengan REDD, negara-negara dan pengusaha kaya mendanai negara-negara berkembang di daerah tropis untuk membantu mereka mengurangi deforestasi.
Namun, menurut masyarakat adat, cara terbaik bagi mitigasi perubahan iklim adalah dengan mengubah produksi dan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan yang masih mendominasi sistem yang berlaku di dunia ini. Langkah mitigasi terbaik mencakup perubahan gaya hidup secara individu atau kolektif dan perubahan jalur pembangunan secara struktural menuju ke arah pembangunan yang berkelanjutan dan rendah karbon
Aksi nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penerapan strategi pembangunan rendah karbon dan tahan perubahan iklim, yang perlu terus dikembangkan dan diperkuat pelaksanaannya. Guna mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam melaksanakan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, Menteri Lingkungan Hidup dalam acara National Summit Perubahan Iklim Ke-1 di Bali, pada bulan Oktober 2011, telah meluncurkan Program Kampung Iklim (ProKlim).
Melalui pelaksanaan Proklim, Pemerintah memberikan penghargaan terhadap masyarakat pada lokasi minimal setingkat RW/Dusun/Dukuh dan maksimal setingkat Kelurahan/Desa yang secara berkesinambungan telah melakukan aksi lokal terkait dengan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dapat dikembangkan dan dilaksanakan di tingkat lokal mencakup antara lain:
a. Pengendalian banjir, longsor atau kekeringan
b. Peningkatan ketahanan pangan
c. Penanganan kenaikan muka air laut
d. Pengendalian penyakit terkait iklim
e. Pengelolaan dan pemanfaatan sampah/limbah
f. Penggunaan energi baru, terbarukan dan konservasi energi
g. Budidaya pertanian rendah emisi GRK
h. Peningkatan tutupan vegetasi
i. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan
Keberadaan kelompok masyarakat dan tokoh lokal yang mampu berperan sebagai penggerak pelaksanaan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta ketersediaan instrumen pendukung lainnya merupakan faktor penting yang dievaluasi dalam proses penilaian usulan ProKlim. Pengusulan lokasi ProKlim kepada KLH dapat dilakukan oleh berbagai pihak, baik secara individu maupun kelompok, yang mempunyai informasi bahwa masyarakat di lokasi tertentu telah melakukan aksi lokal yang dapat mendukung upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Pada pelaksanaan Proklim tahun 2012, KLH menerima pengusulan 71 calon lokasi Proklim yang tersebar di 15 Provinsi. Jumlah pengusulan ProKlim tahun 2013 meningkat menjadi 180 lokasi yang tersebar di 14 Provinsi (69 Kabupaten/Kota).


Sumber : National Geographic Indonesia

Saturday, 1 August 2015

LIVING OFF-GRID POTENTIAL

This blog post was submitted for the selection of International Student Energy Case Competition finalist. Read the full post on  Student Energy here.

References :

Rosen,Nick.off the grid:Inside the Movement for More Space, Less Government, and True Independence in Modern America.London:Penguin Books,2010.

Infinegria Consulting. Autonomous Systems, Off-grid System, Rural Electrification, Market Intelligence and Research. Web. 2 June 2015 <http://www.infinergia.com/en/node/105>



Elisabeth Rosenthal.African Huts Far From the Grid Glow With Renewable Power.New York Times.Web.2 June 2015 <http://www.nytimes.com/2010/12/25/science/earth/25fossil.html>

Wednesday, 3 June 2015

BILA MANUSIA DI BUMI TIDAK BERKEMBANG SEMODERN SEKARANG?

  Jumlah dan gaya hidup manusia modern memang banyak menimbulkan emisi gas yang menyebabkan polusi udara, berlubangnya lapisan ozon, hujan asam, dan lain-lain. Namun, apabila Homo Sapiens tidak berkembang se-modern ini dan Bumi tidak dihuni manusia sebanyak ini (7 miliar jiwa), Bumi dan atmosfer akan tetap mengalami perubahan-perubahan yang sekarang disebut dengan perubahan iklim atau pemanasan global. Bumi secara natural berangsur-angsur memproduksi greenhouse gasses atau gas rumah kaca seperti karbon dan methana sejak dahulu yang disebabkan oleh fenomena alami seperti aktivitas vulkanik, tanaman, dan perut sapi. Perbedaan signifikan yang akan terjadi di Bumi apabila jumlah dan aktivitas manusia modern berkurang ialah berkurang drastisnya polusi udara dan tingginya temperatur rata-rata Bumi saat ini yang disebabkan aktivitas industrial dan bahan bakar fosil, hutan-hutan tidak akan gundul, dan air tidak akan tercemar.

Kenaikan temperatur rata-rata Bumi yang saat ini disebut dengan fenomena pemanasan global pada abad ke-20 sebanyak 1-1,4 ° F masih dalam range fluktuasi +/- 5 ° F pada 3.000 tahun terakhir. Sebuah studi tahun 2003 oleh para peneliti di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics menunjukkan bahwa suhu pada tahun  1000-1100 AD (sebelum penggunaan bahan bakar fosil) ternyata sebanding dengan tahun 1900-1990. Hal ini menunjukkan bahwa pemanasan dan pendinginan temperatur di Bumi telah terjadi jauh sebelum era industrial. Contohnya kini Greenland yang dikenal dingin dan beku ribuan tahun lalu merupakan pulau yang diselimuti padang rumput yang menunjukan pendinginan di Bumi. Pemanasan juga pernah terjadi saat mencairnya sebagian besar es di kutub pada Ice Age ribuan tahun lalu. Dapat disimpulkan bahwa kenaikan temperatur merupakan hal yang secara natural terjadi dan tidak dapat dicegah. Namun, manusia sebaiknya bersikap bijak dengan tidak mencemari lingkungan, dan tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan. Meskipun tidak ada lagi alasan untuk mengurangi laju pemanasan global, kita juga perlu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil di bidang transportasi dan manufaktur dengan alasan bahwa ketersediaan bahan bakar fosil di alam terbatas dan terus berkurang, serta untuk mengurangi tingkat polusi udara demi kualitas udara dan air yang lebih baik.






Sumber Jurnal dan Paper :
Anders Moberg, PhD, et al., "Highly Variable Northern Hemisphere Temperatures Reconstructed From Low and High Resolution Proxy Data" , Nature, Feb. 2005
Arthur B. Robinson, PhD, et al., " Environmental Effects of Increased Atmospheric Carbon Dioxide " . 2007
Willie Soon, PhD, and Sallie Baliunas, PhD, " Proxy Climatic and Environmental Changes of the Past 1000 Years " . 2003

Friday, 29 May 2015

RESUME X-RAY EARTH (NATIONAL GEOGRAPHY)

Dalam film dokumenter dari National Geography yang berjudul X-ray earth memberikan pengetahuan kepada kita mengenai sebuah teknologi yang dapat memberikan gambaran umum bumi dari permukaan hingga kedalam dalam bentuk visual. Hal yang menarik dari film ini adalah ketika ilmuwan dunia berhasil menemukan sebuah teknologi untuk mendiagnosis kondisi bumi dengan X-ray menggunakan teknologi CGI. Berdasarkan film dokumenter tersebut hal pertama yang harus dilakukan sebelum kita mendapatkan gambaran X-ray dari bumi, para ilmuwan harus memasang sensor-sensor yang terletak di bawah tanah, di langit, laut dan kota-kota untuk memantau bumi untuk memantau bumi dari waktu ke waktu. Bahkan dengan menggunakan metode ini, kita dapat mengetahui gambaran bumi di masa lampau dan sekarang. Dalam film tersebut, saya juga tertarik bagaimana teknologi tersebut dapat menggambarkan tomografi seismik di berbagai titik di belahan bumi, juga bagaimana teknologi ini dapat menggambarkan perubahan iklim dunia.
Aktivitas vulkanik menjadi bukti adanya sesuatu yang terjadi di dalam bumi. Untuk melihat 99% bagian dalam bumi yang tidak bisa kita lihat, dipasang US Array yang dipasang dengan jarak antar seismometer 70 km. Seismometer ini dapat mendeteksi gempa dalam bumi dari belahan dunia lain yang sangat kecil dan tidak terasa sekalipun. Data yang dikumpulkan misalnya berupa waktu yang dibutuhkan suatu gempa untuk terdeteksi oleh stasiun tertentu. Proses seberapa cepat seismic wave menjalar di bumi ini dinamakan seismictemography. Kumpulan data ini dimodelkan menjadi interior bumi dalam bentuk tiga dimensi. Formasi masif di bawah permukaan tanah yang dilewati s-wave juga dimodelkan melalui seismic imaging yang menghasilkan visualisasi dan proyeksi 3D sisi dalam bumi. Dalam hal ini diketahui mengenai diameter bumi, material dan permukaan inti bumi, hingga kerak yang terpecah-pecah menjadi lempengan bumi. Lempeng-lempeng bumi ini setiap saat bergesekan sehingga terjadilah gempa.  Kecanggihan dari kolaborasi ilmu geofisika dan programming ini juga menjelaskan aktivitas vulkanik yang dipengaruhi oleh gerakan di dalam bumi.
Hal menarik selanjutnya adalah ketika para ilmuwan mengambil sampel atmosfer pada setiap negara di bumi. Kemudian sampel tersebut dianalisa mengenai zat-zat dan molekul-molekul apa saja yang terkandung dalam sampel gas atmosfer yang mereka dapat, kemudian sampel tersebut akan dibuat modelnya dikomputer. Sehingga kita dapat melihat bagaimana kondisi real time atmosfer dari waktu ke waktu. Misalnya saja, kita dapat melihat kondisi CO2 di dalam atmosfer dengan melihat pemodelannya di komputer, dimana gas tersebut digambarkan dengan warna merah yang menyelimuti hampir seluruh daerah di kutub utara. Bahkan dari kegiatan sampling dan modeling menggunakan komputer, kita dapat mengetahui jika dari waktu ke waktu, bumi terus bernafas dan memproduksi CO2 secara berlebih. Karena adanya modeling dengan menggunakan komputer, ilmuwan dapat memprediksi jika konsentrasi CO2 di atmosfer terus meningkat selama 30th terakhir.
Di laut daerah Oregon, Amerika Serikat, terdapat suatu “zona mati” dimana disana ditemukan banyak sekali bangkai ikan maupun makhluk laut lainnya seperti kepiting. Para oseanografer meneliti hal ini dengan teknologi penginderaan melalui suatu organisme bernama feudoplankton yang biasanya menjadi santapan para ikan laut. Feudoplankton diteliti pertumbuhan dan data sebarannya menggunakan teknologi penginderaan dan terlihat jelas seperti kumpulan daerah berwarna biru atau kehijauan dari muka bumi. Dan yang menyebabkan terjadinya zona mati pada laut adalah gagalnya proses upwelling yang seharusnya menaikkan plankton yang terletak di dasar laut ke permukaan sehingga ikan tidak mendapat makanan apa apa lalu mati. Upwelling yang dipengaruhi oleh angin ini tidak terjadi karena adanya pembelokkan angin. Angin dapat berbelok karena pengaruh pemanasan global yang terjadi di bumi.

Pemanasan global di bumi ini juga menyebabkan es di Alaska berkurang drastis. Pencairan es di muka bumi dapat menyebabkan kenaikan muka air laut. Ekosistem di kutub juga dapat terganggu oleh pencairan es ini. Dengan pencairan es ini maka jelas sudah bahwa Bumi ini semakin panas alias meningkat terus suhu permukaannya. Pencairan es di kutub akibat pengaruh pemanasan global ini diamati menggunakan remote sensing yang diletakkan di titik tertentu. Secara garis besar teknologi-teknologi kebumian ini bertujuan untuk mengamati bumi dan pergerakannya hingga ke inti bumi sekalipun.