Tuesday, 12 May 2015

PENGAMATAN KARBON MONOKSIDA CO DI DAGO BANDUNG

I.            Tujuan Pengamatan

1.      Untuk mengetahui perbedaan penyebaran CO (Karbon Monoksida) dan yang mempengaruhinya di sepanjang jalan Ir. H. Djuanda pada hari biasa dalam keadaan sepi dan pada saat car free day selama satu jam di pagi hari.
2.      Mengetahui perbedaan temperatur potensial di setiap titik pengamatan.

II.            Data Pengamatan

ü  Waktu pengamatan: Sabtu 14 Februari dan Minggu 15  Februari 2015  pukul 08.25 – 09.25 WIB dengan interval pengambilan data setiap lima menit sekali.
ü  Lokasi pengamatan: Sepanjang jalan Ir. H. Djuanda dengan 4 titik pengamatan, yakni;
1.      Simpang Dago : -6.885274,107.61212128, ketinggian 788 mdpl
2.      SPBU Dago: -6.904445, 107.606961, ketinggian 725 mdpl
3.      RS Borromeus :  - 6.914864, 107.608242, ketinggian 713 mdpl
4.      Taman Cikapayang (Taman D A G O ) : -6.8985835, 107.6111895, ketinggian 749 mdpl

ü  Kondisi daerah pengamatan : Simpang Dago, SPBU Dago, dan RS Borromeus berkondisi jalan raya dengan pepohonan berjarak sekitar 4 meter dan gedung dengan jarak sekitar 10 meter. Sementara bagi Taman Cikapayang berada di dekat jembatan layang dan perempatan.

III.            Hasil Pengamatan

Berikut adalah tabel perbandingan temperatur dan CO di keempat titik pada hari Sabtu 14 Februari 2015 dan Minggu 15 Februari 2015 yang telah dirata-ratakan;

   
Temperatur (oC)
CO (ppm)
Sabtu
Minggu
Sabtu
Minggu
Titik 1: Simpang Dago
28.38
31.4
11.07
10.3
Titik 2 : SPBU Dago
28.30
29.07
1.15
0
Titik 3 : R S Borromeus
27.61
27.63
3.92
0
Titik 4 : Taman Cikapayang
28.7
29.84
2.53
0.46

Pada data CO terlihat bahwa CO pada hari Sabtu relatif lebih tinggi daripada hari Minggu karena pada hari Sabtu terdapat kendaraan bermotor yang melintasi Jalan Ir. H. Djuanda terutama di Taman Cikapayang yang dekat dengan perempatan jalan dan Simpang Dago yang relatif  lebih ramai dan banyak jumlah kendaraannya. Di sisi lain, pada hari Minggu CO jauh lebih rendah karena tidak adanya kendaraan bermotor yang melintas pada car free day, kecuali di Simpang Dago. Sedangkan terdeteksinya CO dalam jumlah kecil di Taman Cikapayang cenderung karena daerah tersebut merupakan kawasan merokok.

TEMPERATUR POTENSIAL


Temperatur potensial adalah suhu udara paket saat berpindah secara adiabatic pada ketinggian tertentu pada tekanan standar 1000mb.



= temperatur potensial pada hari Sabtu



= temperatur potensial pada hari Minggu



Titik 1 – Simpang Dago








Titik 2 – SPBU Dago






Titik 3 – RS Borromeus






Titik 4 - Taman Cikapayang







IV.            Analisis data

Pada hari Sabtu cuaca terlihat mendung. Cuaca yang mendung ini akan menyebabkan suhu udara semakin menurun dan kelembaban udara menjadi meningkat pada siang hari. Begitu pula sebaliknya pada hari Minggu, cuaca cerah dan tidak ada tutupan awan, cuaca yang cerah ini menyebabkan suhu meningkat dan kelembaban udara pun berkurang pada siang hari. Faktor suhu berpengaruh terhadap akumulasi CO, dimana sifat CO yang statis, bergerak dan berkumpul kemudian terakumulasi pada siang hari yang akan menyebabkan peningkatan suhu. Rata-rata kadar CO di sekitar SPBU Dago hari Sabtu adalah 1.1538462 ppm, di RS Borromeus adalah 3.9230769 ppm, dan di Taman Cikapayang adalah 1.50000002 ppm. Sedangkan pada saat car free day, selain Simpang Dago konsentrasi CO tidak terdeteksi, kecuali di dekat orang yang merokok di sekitar Taman Cikapayang.
Berdasarkan hasil pengamatan dan perolehan data kadar CO pada hari Sabtu 14 Februari dan hari Minggu 15 Februari 2015 diperoleh hasil yaitu kadar CO lebih tinggi pada hari Sabtu dibandingkan pada hari Minggu. Pada hari Sabtu terlihat banyak kendaraan yang melintas di sepanjang Jalan Ir. H. Djuanda (Jalan Dago). Pada jam 9.00 terdeteksi kadar CO paling tinggi. Sebagian besar kadar CO yang banyak ini dihasilkan oleh kendaraan bermotor yang sedang lalu lalang. Pada jam – jam tersebut banyak orang yang sedang melakukan perjalanan untuk pergi melakukan aktivitasnya. Hampir seluruh kendaraan tersebut mengemisikan gas CO ke udara. Kemudian CO yang merupakan hasil pembakaran tidak sempurna ini dan bersifat statis akan bergerak di atmosfer, berkumpul dan terakumulasi di udara hingga mencapai konsentrasi maksimumnya pukul 9.00 – 9.25 . Namun dari empat titik di sepanjang Jalan Ir. H. Djuanda tidak semuanya memiliki hasil yang sama.
Pada titik Taman Cikapayang dan Simpang Dago terlihat kadar CO lebih tinggi daripada titik di sekitar SPBU Dago dan RS Borromeus, hal ini dapat terjadi karena faktor kendaraan yang berlalu lalang di persimpangan lebih banyak karena ada 4 jalur yang di lewati kendaraan, daripada kendaraan yang berada di SPBU Dago dan RS Borromeus karena hanya 2 jalur. Hal ini juga terjadi pada hari Minggu saat car free day. Namun ketika car free day, tidak ada kendaraan yang melintasi Jalan Ir. Haji Djuanda tetapi kadar CO masih tetap terdeteksi karena banyaknya orang yang  merokok  di daerah tersebut. Pada hari Sabtu kadar rata-rata CO adalah 4.6730769 ppm di keempat titik sepanjang Jalan Ir. Haji Djuanda, sedangkan pada hari Minggu kadar rata-rata CO mencapai 3.9230769 ppm. Pada data diperoleh konsentrasi CO terendah pada hari Minggu disebabkan karena sepanjang Jalan Ir. Haji Djuanda  digunakan untuk car free day, maka tidak ada kendaraan yang melintasi jalan sepanjang Dago kecuali Simpang Dago dan Taman Cikapayang, maka seluruh kendaraan akan berpusat di persimpangan tersebut yang menyebabkan kadar CO di daerah tersebut makin tinggi.
Data tersebut menyebutkan bahwa nilai temperatur potensial yang tinggi pada tiap titiknya terjadi pada hari Minggu, meskipun pengamatan dilakukan dalam tempat yang sama dan interval pengambilan data juga sama. Jika kita lihat dari data CO, yang terbanyak nilainya adalah pada saat hari Sabtu saat banyak kendaraan yang melintas. Dari kendaraan sendiri cukup menyumbang pengaruh kenaikan temperatur di udara sekitar. Padahal hari Minggu pada saat car free day dan saat pengamatan kendaraan yang berlalu lalang sangatlah sedikit. Hal ini membuktikan ada faktor lain yang menyebabkan perbedaan temperatur potensial tersebut, salah satunya adalah panas yang dikeluarkan oleh tubuh manusia. Saat ada banyak orang yang berkumpul dalam suatu tempat, masing-masing dari mereka melepaskan kalor ke sekelilingnya, kalor tersebut akan terakumulasi sehingga menyebabkan suhu udara di sekitar naik. Jika suhu udara naik, maka temperatur potensial pun akan naik, karena seperti pada persamaan di atas bahwa temperatur potensial sebanding dengan nilai temperatur yang tercatat. Selain itu faktor lainnya adalah tekanan dan ketinggian tempat dalam acuan/level yang sama (misal pengukuran ketinggian dengan menggunakan level permukaan laut).

KESIMPULAN :
                        Dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu :
1.      Penggunaan alat pendeteksi CO yang  dapat bekerja dengan sensor dan mendeteksi keberadaan CO di lingkungan ini cukup mudah digunakan
2.      Kadar CO di simpang Dago lebih tinggi pada hari minggu karena banyaknya kendaraan yang melewati 4 jalur di persimpangan karena disepanjang dago tidak dapat dilewati karena car free day
3.      Kadar CO secara keseluruhan pada hari sabtu lebih tinggi dibandingkan hari minggu, karena banyak kendaraan yang melintas sepanjang Jalan Dago, maupun di persimpangan.
4.      Kadar CO pada hari minggu di car free day di sebabkan salah satunya oleh asap rokok.
5.      CO yang bersifat statis yang bergerak dan berkumpul kemudian terakumulasi maksimum pada jam (jam berapa yang paling tinggi)
6.      Pengamatan kadar CO dipengaruhi oleh kondisi cuaca
7.      Kendaraan bermotor dan panas dari tubuh manusia dapat mempengaruhi temperatur potensial.











Lampiran Data Pengamatan


Kelompok 8, Sabtu 14 Februari 2015 – Simpang Dago
No
Waktu
Temperatur (oC)
Tekanan (hPa)
Kelembapan (%)
CO (ppm)
1
8.25
26
924.3
72
14
2
8.30
27
924.3
70
8
3
8.35
28
925.5
79
15
4
8.40
29
925.5
79
20
5
8.45
29
924.3
64
4
6
8.50
29
924.6
62
13
7
8.55
29
924.7
67
8
8
9.00
29
924.8
65
8
9
9.05
29
925.5
79
14
10
9.10
28
924.9
66
3
11
9.15
28
924.9
67
12
12
9.20
28
924.9
68
25
13
9.25
30
929.2
61
0

Rata-rata
28.38461538
925.1846154
69.15384615
11.076923




Kelompok 5, Minggu 15 Februari 2015 – Simpang Dago

No
Waktu
Temperatur (oC)
Tekanan (hPa)
Kelembapan (%)
CO (ppm)

1
8.25
31
924.8
63
9

2
8.30
31
924.8
61
10

3
8.35
31
924.8
59
3

4
8.40
31
924.9
59
11

5
8.45
31
925
59
7

6
8.50
32
925
57
6

7
8.55
31
925
58
7

8
9.00
31
925
59
5

9
9.05
31
925.1
63
38

10
9.10
32
925.1
56
2

11
9.15
32
925.1
56
5

12
9.20
32
925
59
15

13
9.25
33
925
54
16


Rata-rata
31.46153846
924.9692308
58.69230769
10.30769231


Kelompok 3,  Sabtu 14 Februari 2015 – RS Borromeus
No
Waktu
Temperatur (oC)
Tekanan (hPa)
Kelembapan (%)
CO (ppm)
1
8.25
28
967.3
67
1
2
8.30
28
927.3
69
2
3
8.35
28
927.4
67
0
4
8.40
28
927.3
69
5
5
8.45
29
927.6
68
7
6
8.50
29
927.7
69
4
7
8.55
28
927.9
65
1
8
9.00
28
928
66
5
9
9.05
27
927.9
68
6
10
9.10
27
928.1
69
4
11
9.15
27
928.2
70
5
12
9.20
26
928.2
70
6
13
9.25
26
928.2
72
5

Rata-rata
27.61538462
930.8538462
68.38461538
3.9230769


Kelompok 1,  Minggu 15 Februari 2015 – RS Borromeus

No
Waktu
Temperatur (oC)
Tekanan (hPa)
Kelembapan (%)
CO (ppm)
1
8.25
27.2
928.8
68
0
2
8.30
27.3
928.7
68
0
3
8.35
27.8
928.7
69
0
4
8.40
28.7
928.8
64
0
5
8.45
28.8
928.9
68
0
6
8.50
27.8
929
69
0
7
8.55
27.4
928.9
71
0
8
9.00
27.3
929
73
0
9
9.05
27.7
929
69
0
10
9.10
27.6
929
68
0
11
9.15
27.3
928.9
69
0
12
9.20
27.2
928.9
70
0
13
9.25
27.2
928.9
71
0

Rata-rata
27.63846154
928.8846154
69
0











Kelompok 6, Sabtu 14 Februari 2015 – SPBU Dago
No
Waktu
Temperatur (oC)
Tekanan (hPa)
Kelembapan (%)
CO (ppm)
1
8.25
30
925.7
70
0
2
8.30
30
925.6
68
0
3
8.35
29
925.7
70
1
4
8.40
29
925.7
70
1
5
8.45
29
925.8
70
2
6
8.50
29
926.1
69
2
7
8.55
28
926.2
71
2
8
9.00
28
926.2
76
3
9
9.05
28
926.1
77
1
10
9.10
27
926.3
77
1
11
9.15
27
926.3
79
1
12
9.20
27
926.5
78
1
13
9.25
27
926.4
76
0

Rata-rata
28.30769231
926.0461538
73.15384615
1.1538462

Kelompok 2,  Minggu 15 Februari 2015 – SPBU Dago
No
Waktu
Temperatur (oC)
Tekanan (hPa)
Kelembapan (%)
CO (ppm)
1
8.25
27
926.6
83
0
2
8.30
27
926.5
82
0
3
8.35
27
926.6
80
0
4
8.40
27
926.7
80
0
5
8.45
28
926.7
79
0
6
8.50
28
926.8
73
0
7
8.55
28
926.8
70
0
8
9.00
29
928.8
66
0
9
9.05
30
926.8
64
0
10
9.10
31
928.8
58
0
11
9.15
32
926.7
57
0
12
9.20
32
926.6
53
0
13
9.25
32
926.7
56
0

Rata-rata
29.07692308
927.0076923
69.30769231
0

Kelompok 7,  Sabtu 14 Februari 2015 – Taman Cikapayang
No
Waktu
Temperatur (oC)
Tekanan (hPa)
Kelembapan (%)
CO (ppm)
1
8.25
29.8
928.8
61
3
2
8.30
30.2
928.8
58
0
3
8.35
29.2
928.7
62
5
4
8.40
28
928.8
64
3
5
8.45
27.3
928.9
67
1
6
8.50
26.7
929.2
70
2
7
8.55
29.2
929.3
61
2
8
9.00
29.6
929.4
62
4
9
9.05
28.8
929.3
64
4
10
9.10
28.3
929.5
66
0
11
9.15
27.7
929.6
67
5
12
9.20
28.4
929.6
64
3
13
9.25
29.9
929.6
61
1

Rata-rata
28.7
929.1923077
63.61538462
2.538461538

Kelompok 4,  Minggu 15 Februari 2015 – Taman Cikapayang
No
Waktu
Temperatur (oC)
Tekanan (hPa)
Kelembapan (%)
CO (ppm)
1
8.25
31
929
65
0
2
8.30
30
929
65
3
3
8.35
29
929
67
0
4
8.40
29
929.1
69
0
5
8.45
29
929.1
69
1
6
8.50
30
929.2
66
0
7
8.55
30
929.2
66
0
8
9.00
30
929.3
60
0
9
9.05
30
929.3
61
1
10
9.10
30
929.2
62
0
11
9.15
30
929.2
63
1
12
9.20
30
929.2
59
0
13
9.25
30
929.2
61
0

Rata-rata
29.84615385
929.1538462
64.07692308
0.4615385


Wednesday, 6 May 2015

SIKLON TROPIS DAN HURRICANE HAZARDS


Terbentuknya Siklon Tropis
Siklon tropis terbentuk di atas laut yang hangat (> 26,50C) dan luas. Kondisi lain yang mendukung terbentuknya siklon tropis adalah geser angin (wind shear) vertikal yang lemah, kolom udara lembab yang tinggi, lapisan campuran (mixing layer) air laut hangat mencapai ketebalan 50 meter, dan lapse rate di troposfer yang cukup besar. Perkembangan siklon tropis dimulai dengan adanya sistem cuaca yang telah terganggu sebelumnya (seperti badai petir (thunderstorm)). Thunderstorm di daerah tropis bisa terbentuk di sepanjang ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) ataupun karena gelombang tropis. Di bawah thunderstorm biasanya akan terjadi penurunan tekanan udara secara gradual akibat adanya ketidakseimbangan antara laju konveksi udara dengan angin permukaan yang menuju pusat tekanan udara rendah. Agar angin di sekeliling pusat tekanan udara rendah ini dapat berputar, gaya Coriolis yang ada harus mencukupi. Oleh karena itu, perkembangan siklon tropis dimulai dari wilayah lautan dengan lintang geografis minimal 50.
Angin yang berputar di sekitar pusat tekanan udara rendah ini muncul bersamaan dengan kumpulan thunderstorm yang formasinya agak melengkung. Sekumpulan thunderstorm ini dinamakan gangguan tropis. Selanjutnya, gangguan tropis akan menjadi depresi tropis jika kecepatan anginnya mencapai kisaran antara 20 – 34 knot (36 – 61 km/jam) dan terdapat satu isobar tertutup (jika dilihat di peta cuaca). Bila sistem badai tersebut mulai berotasi terhadap pusat tekanan udara rendah, berukuran semakin besar, kecepatan angin antara 35 – 64 knot (63 – 115 km/jam), dan terdapat 2 isobar tertutup, maka depresi tropis telah berubah menjadi badai tropis. Pada fase ini, badai mulai diberi nama dan belum terdapat mata badai. Saat badai tersebut telah memiliki “mata” di pusatnya, kecepatan angin melebihi 64 knot (> 115 km/jam), dan terdapat setidaknya 3 isobar tertutup, maka badai tersebut telah berubah menjadi siklon tropis.

Hurricane Hazards

Secara umum, ada 3 bahaya utama yang disebabkan oleh keberadaaan siklon tropis, yaitu angin kencang, banjir, dan storm surge. Kecepatan angin yang dihasilkan oleh siklon tropis bervariasi, tergantung pada kekuatannya. Skala Saffir-Simpson (SS) adalah skala yang digunakan untuk mengklasifikasikan kekuatan siklon tropis menurut kecepatan anginnya. Siklon tropis skala SS-1 menghasilkan angin berkecepatan antara 119 – 153 km/jam. Kecepatan angin dapat melebihi 300 km/jam pada siklon tropis skala SS-5. Tak heran jika banyak bangunan (terutama yang konstruksinya lemah) yang rusak saat diterjang siklon tropis. Selain angin kencang, banjir juga merupakan bahaya yang disebabkan oleh siklon tropis. Hujan dengan intensitas yang sangat tinggi dan durasi yang lama dapat dengan mudah menyebabkan terjadinya banjir di daratan. Korban jiwa yang berjatuhan karena siklon tropis sebagian besar disebabkan oleh banjir yang dihasilkannya. Banjir ini akan semakin parah jika siklon tropis bergerak dengan lambat dan disertai terjadinya storm surge.                                                                                                                                     Fenomena storm surge merupakan kenaikan muka air laut secara abnormal yang muncul akibat datangnya siklon tropis. Kenaikan muka air laut akibat storm surge bervariasi, tergantung pada kekuatan siklon tropisnya. Siklon tropis SS-1 menyebabkan kenaikan muka air laut sekitar 4 kaki (1,3 meter), sedangkan pada siklon tropis SS-5 bisa mencapai 20 kaki (6,5 meter) atau lebih. Storm surge akan semakin parah jika waktu kejadiannya bertepatan dengan datangnya pasang tinggi air laut. Untuk mengetahui gambaran kerusakan akibat siklon tropis, tinjau kejadian Hurricane Katrina (skala SS-5) pada tahun 2005 yang menerjang wilayah Amerika Serikat bagian selatan. Kombinasi antara angin kencang, banjir, storm surge, dan jebolnya tanggul menimbulkan kerugian harta melebihi 75 milyar dolar AS dan korban jiwa hingga 1.200 orang.

Friday, 1 May 2015

PERBEDAAN WAKTU HIDUP PADA GAS RUMAH KACA , AL-GORE , MONCKTON


Gas rumah kaca di atmosfer Bumi yakni uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O) memiliki waktu hidup (lifetime) yang berbeda-beda di atmosfer. Uap air mempunyai lifetime sekitar 10 hari di atmosfer, metana 12 tahun, dan dinitrogen oksida 114 tahun. Untuk lifetime karbon dioksida, banyak versi yang bermunculan. Para ilmuwan pro pemanasan global dan IPCC menyatakan bahwa lifetime CO2 antara 50 – 200 tahun, sedangkan kelompok ilmuwan lain yang relatif netral (atau bahkan kontra) dengan isu pemanasan global menyatakan lifetime CO2 berkisar antara 2 – 12 tahun. Dari penjelasan tersebut, jelas terlihat bahwa lifetime CO2 sangat bervariasi, tergantung pada sumbernya.
Terlepas dari ada atau tidaknya manipulasi data lifetime CO2 yang dikeluarkan oleh IPCC, lifetime gas-gas rumah kaca di atmosfer berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena setiap gas rumah kaca masuk dan meninggalkan atmosfer melalui proses yang berbeda-beda. Lifetime uap air di atmosfer relatif pendek (hanya sekitar 10 hari) karena uap air sangat mudah untuk masuk (melalui evaporasi dan transpirasi) dan keluar (melalui kondensasi, deposisi, dan presipitasi) meninggalkan atmosfer. Metana juga mempunyai lifetime yang cukup singkat karena ia merupakan gas yang reaktif. Dinitrogen oksida mempunyai lifetime yang cukup lama karena ia terurai dengan lambat di stratosfer. Karbon dioksida mempunyai lifetime yang paling bervariasi dan paling sulit untuk diperkirakan (dibandingkan gas-gas rumah kaca lainnya) karena kompleksnya proses masuk dan keluarnya CO2 meninggalkan atmosfer. Ada juga beberapa faktor umpan balik (feedback) berkaitan dengan konsentrasi CO2 yang belum diketahui dengan baik. Proses masuknya CO2 ke atmosfer terjadi melalui respirasi makhluk hidup, penguraian tumbuhan yang sudah mati, letusan gunung api, pembakaran bahan bakar fosil, dan deforestasi. CO2 keluar dari atmosfer melalui proses fotosintesis pada tumbuhan dan fitoplankton serta diserap oleh lautan.

KECENDERUNGAN PUBLIK PADA AL-GORE (An Inconvenient Truth) ATAU MONCKTON (Apocalypse?No!)
Penduduk dunia  sejauh ini masih cenderung setuju dengan teori pemanasan global yang diungkapkan oleh Al Gore. Berkebalikan dari kecenderungan penduduk dunia, sebuah survey menunjukkan bahwa hanya ada 34 % penduduk Amerika Serikat yang setuju dengan isu pemanasan global. Di Indonesia, kesadaran akan isu pemanasan global masih tergolong rendah dibanding negara-negara lain. Masyarakat Indonesia yang sadar akan isu pemanasan global cenderung setuju dengan teori pemanasan global yang disebabkan oleh manusia (setuju ke arah Al Gore). Hal ini tidak terlepas dari maraknya pemberitaan mengenai isu pemanasan global (beserta dampaknya) di berbagai media massa. Banyak orang yang tinggal di perkotaan merasa akhir-akhir ini cuaca semakin panas, sehingga mereka semakin yakin dengan adanya isu pemanasan global. Padahal, cuaca di perkotaan memang terasa lebih panas daripada daerah sekitarnya karena efek pulau panas perkotaan (Urban Heat Island). Selain itu, luasnya penyebaran data-data berbasis IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) di internet yang mendukung isu pemanasan global antropogenik juga menyebabkan orang-orang yang sering menelusuri (browsing) internet terpengaruh dan cenderung setuju dengan isu pemanasan global.
Pada akhir tahun 2009, seorang hacker berhasil membobol jaringan dari server Climate Research Unit (CRU) di University of East Anglia (UEA) di Inggris. Hacker tersebut mendapat sekumpulan data dan email yang membahas tentang isu pemanasan global. Email-email itu berisi percakapan antara para ilmuwan di tempat tersebut sejak tahun 1997 sampai sekarang yang menunjukkan adanya manipulasi pada data pemanasan global. Terbongkarnya kasus ini membuat sebagian masyarakat di dunia Barat gempar dan diperkirakan akan menurunkan kecenderungan publik pada isu pemanasan global. Berita ini ternyata kurang diekspos di Indonesia, sehingga masih banyak masyarakat Indonesia yang cenderung setuju dengan isu pemanasan global yang digaungkan oleh Al Gore. Terlepas dari itu, mungkin sebagian orang akan tetap mempertahankan isu pemanasan global. Isu ini membuat banyak orang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Jika tidak ada isu pemanasan global, bisa jadi aktivitas perusakan lingkungan semakin menjadi-jadi.

DATA METEOROLOGI DI IPCC YANG SUDAH DIMANIPULASI MASIH DIGUNAKAN
Sekumpulan ilmuwan yang meneliti pemanasan global terbagi menjadi 2 kubu. Kubu pertama setuju dengan pemanasan global yang disebabkan oleh manusia (Anthropogenic Global Warming (AGW)), sedangkan kubu lain tidak setuju dengan AGW. Kubu pertama juga dikenal sebagai kubu pro Al Gore. Hingga saat ini, jumlah ilmuwan pro AGW masih lebih banyak daripada yang kontra AGW. Terbongkarnya kasus manipulasi data-data IPCC tidak serta merta membuat masyarakat dunia (termasuk para ilmuwan di luar dunia Barat) sadar dan mengubah kecenderungannya dari isu pemanasan global. Kasus manipulasi data-data IPCC kurang diekspos di media massa, serta data-data IPCC di internet masih banyak beredar. Selain itu, kebanyakan ilmuwan di luar dunia Barat masih kekurangan dana dan peralatan untuk meneliti lebih lanjut tentang isu pemanasan global beserta dampaknya. Hal ini membuat banyak ilmuwan di luar dunia Barat di bidang meteorologi (dan bidang-bidang lainnya) masih mengandalkan data-data IPCC untuk digunakan sebagai basis penelitian mereka. Para peneliti dari kubu pro Al Gore pun tidak menyerah untuk terus menyebarkan data-data pemanasan global yang telah dimanipulasi. Dengan demikian, data-data meteorologi di IPCC masih digunakan sampai sekarang di dunia meteorologi.

PENYEBAB PERUBAHAN IKLIM DILIHAT DARI KECENDERUNGAN PENDAPAT AL-GORE DAN MONCKTON
Dalam film “An Inconvenient Truth”, Al Gore sejak awal sudah menyatakan bahwa penyebab perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini adalah peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (terutama CO2). Berdasarkan data-data yang ia tampilkan di film ini, terdapat korelasi antara konsentrasi CO2 di atmosfer dengan suhu rata-rata global. Semakin tinggi konsentrasi CO2 di atmosfer, semakin tinggi suhu rata-rata global. Akhir-akhir ini terjadi peningkatan konsentrasi CO2 jauh melebihi tingkat yang pernah dicapai sebelumnya sejak 650.000 tahun yang lalu. Oleh karena itu, Al Gore menyimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi CO2 akhir-akhir ini terjadi karena aktivitas manusia yang mengeluarkan emisi CO2 melalui pembakaran bahan bakar fosil.

Monckton justru meragukan pernyataan bahwa perubahan iklim disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer dalam filmnya yang berjudul “Apocalypse? No!”. Ia menemukan beberapa fakta mengejutkan mengenai data-data dari IPCC. Banyak data-data dari IPCC yang dipalsukan agar seolah-olah memperlihatkan bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi akibat peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer. Data-data dari Monckton menunjukkan korelasi yang buruk antara konsentrasi CO2 di atmosfer dengan suhu rata-rata global. Fenomena yang korelasinya cukup baik dengan dinamika perubahan suhu rata-rata global adalah aktivitas Matahari. Ketika aktivitas Matahari mencapai tingkat maksimum, suhu rata-rata global pun mencapai tingkat maksimum. Begitu pula sebaliknya.

Sunday, 26 April 2015

LINGKUNGAN SEKITAR YANG TELAH MENGALAMI PERUBAHAN DARI DULU HINGGA SEKARANG


Perubahan iklim telah berdampak banyak pada lingkungan. Lingkungan sekitar yang saya ketahui mengalami banyak perubahan dari dulu hingga sekarang adalah lingkungan Kota Bandung. Sejak dulu, Bandung mendapat banyak julukan yang indah. Beberapa julukan di antaranya yang paling terkenal adalah “Kota Kembang” dan “Paris van Java”. Julukan Bandung sebagai “Kota Kembang” muncul karena pada zaman dulu kota ini dinilai sangat cantik karena banyaknya pohon dan bunga yang tumbuh di sana. Dulu, Bandung terkenal dengan keindahan alam dan kesejukan udaranya. Suasana itu sangat disenangi oleh orang-orang kolonial dan karena itulah Bandung dikenal sebagai Kota Paris-nya Pulau Jawa atau “Paris van Java”. Tak heran jika banyak orang yang tertarik untuk mengunjungi bahkan tinggal di Kota Bandung.
Seiring berjalannya waktu, Bandung terus berkembang menjadi sebuah kota metropolitan karena jumlah penduduknya terus bertambah hingga menjadi 2.483.977 jiwa (data tahun 2013). Pertambahan jumlah penduduk ini diiringi dengan meningkatnya pembangunan di Kota Bandung. Sayangnya, ada beberapa wilayah di Bandung yang pembangunannya tidak tertata atau bahkan ilegal. Di dekat kampus ITB Ganesha, terdapat area perkampungan yang terbilang agak kumuh di daerah Tamansari dan Plesiran. Perkampungan ini terlihat dari atas jembatan layang Pasupati. Di wilayah Bandung Utara, pembangunan berlangsung tidak terkendali dan cenderung ilegal. Wilayah Bandung Utara yang dulu banyak ditutupi oleh hutan lindung, sekarang telah tergantikan oleh banyak bangunan. Saat ini, terdapat banyak hotel, villa, bahkan apartemen yang bertengger di wilayah Bandung Utara. Daerah Dago Pakar saat ini telah digunduli dan disiapkan sebagai wilayah kaum elit yang terdiri atas perumahan, komplek villa, dan tempat rekreasi.
Perubahan lingkungan yang selanjutnya terlihat di Kota Bandung adalah kondisi sungai Cikapundung yang kotor dan banyak terdapat sampah. Hal ini tergolong tak lazim untuk sungai yang terletak di dataran tinggi. Biasanya, sungai yang berada di dataran tinggi cenderung masih bersih. Bahkan, kondisi Sungai Cikapundung di bagian Curug Dago telah tercemar. Dari Bandung Utara hingga Bandung Tengah, bantaran Sungai Cikapundung banyak dipenuhi oleh bangunan yang menyebabkan terjadinya penyempitan sungai.
Beberapa daerah di Kota Bandung memiliki sistem drainase yang buruk. Hal itu diperparah lagi dengan berkurangnya luas daerah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Bandung. Salah satu dampak yang terlihat dari kondisi tersebut adalah meningkatnya surface runoff. Fenomena ini dapat terlihat dengan jelas di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda di daerah Dago (Bandung Utara) jika terjadi hujan deras. Jalan ini dapat berubah menjadi “sungai kecil” ketika terjadi hujan deras karena banyaknya air yang meluap dari dalam selokan dan sungai.
Jumlah penduduk Bandung yang kian meningkat berdampak pada meningkatnya mobilitas yang terjadi di Kota Bandung. Selama ini, masih banyak penduduk Bandung yang menggunakan kendaraan pribadi karena masih kurang baiknya angkutan umum. Tidak hanya dari penduduk asli Bandung, mobilitas yang tinggi di Kota Bandung juga disumbang oleh kendaraan pribadi dari Jakarta, terutama pada akhir pekan. Tak heran jika polusi udara di Kota Bandung terus meningkat. Kondisi ini diperparah oleh faktor alam berupa topografi wilayah Bandung yang berbentuk cekungan. Topografi cekungan ini akan cenderung menghambat pertukaran udara dan mengurung polutan udara. Bukti adanya penumpukan polutan udara di Kota Bandung bisa terlihat dari daerah Dago Pakar dan jembatan layang Pasupati. Dari daerah Dago Pakar dapat terlihat adanya haze yang menutupi wilayah cekungan Bandung. Haze ini juga dapat terlihat dari atas jembatan layang Pasupati. Keberadaan haze menyebabkan berkurangnya visibilitas/jarak pandang. Karena adanya haze ini, gedung-gedung tinggi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pengamat terlihat agak kabur.

Pada siang hari yang cerah, suhu udara di Kota Bandung cenderung panas, terutama di daerah yang jarang pepohonan. Meski demikian, pada musim hujan suhu udara di Kota Bandung cenderung normal. Pada musim kemarau, suhu udara di Kota Bandung pada siang hari tak jarang mencapai 300C atau lebih. Bahkan, menurut data dari BMKG, suhu udara di Kota Bandung pernah mencapai 350C pada abad ke-21 ini. Penyebab dari memanasnya cuaca di Kota Bandung adalah Urban Heat Island. Fenomena Urban Heat Island di Kota Bandung disebabkan oleh bertambahnya jumlah bangunan, bertambahnya jumlah gedung tinggi, berkurangnya luas daerah RTH, dan meningkatnya albedo permukaan. Salah satu dampak dari memanasnya suhu udara di Kota Bandung adalah berkurangnya frekuensi terjadinya kabut di Kota Bandung. Pada zaman dahulu, kabut merupakan fenomena yang sering terjadi di Bandung, tak terkecuali di area Kampus ITB Ganesha. Berbeda dengan dahulu, sekitar 30 tahun yang lalu, kini di Bandung sudah sangat jarang terjadi kabut di pagi hari.